20 Agustus 2016

Semacam Patembayan Bernama GRUPIES 21+



Terhitung sudah sekitar 3 sampai 4 tahun kurang lebih memiliki sebuah patembayan yang terdiri dari empat sosok mahluk Tuhan yang cenderung memiliki kepribadian menyimpang beragam. Cukup dekat jika dikatakan sebagai seorang kawan ataupun ikhwan. Beranjak dari masa pubertas setelah lulus dari sebuah lembaga pendidikan bernama SMA. Lalu demi mencapai gelar prestisius terpaksa melabuhkan pilihan untuk bercengkrama dengan dunia perkuliahan. Dan sampailah di mana, saya sebagai subyek pelaku utama bertemu dengan mereka. Ine, Cindy, dan Nonik. Kemudian memutuskan untuk membuat sebuah grup patembayan yang isinya hanya banyolan hingga bacotan dan tak luput dari rasanan. Ya, Grupies 21+ namanya. 





Ine, sebelumnya saya sudah jauh mengenalnya lebih dulu sejak menduduki bangku SMA dibanding dua orang teman saya lainnya, Tapi baru mulai bercengkrama dan mengenal sosoknya lebih dekat, yaa di masa perkuliahan perdana hingga sekarang dan selamanya. Ine bukan sosok yang mudah didekati. Karena kalo orang belum kenal pasti mengira kalo anaknya pendiem dan jutek. Padahal yassalam. Ine, passionate di segala bidang yang berhubungan dengan visual,mulai dari menggambar sampe fotografi. Dia juga salah satu fotografer perempuan favorit saya. Alasannya karena kalo saya dipotret dia pasti hasilnya akan jauh lebih baik ketimbang saya memotret diri saya sendiri alias selfie. Cukup intens bertemu dan ngobrol banyak hal dengan perempuan berhijab ini. Mulai dari hal rumit sampe hal yang nggak rumit dibikin menjadi rumit. Mungkin karena kami memiliki pandangan dan topik kesukaan yang hampir sama.


Nonik. Sama-sama dari Jogja. Cuma beda SMA. Dan Nonik adalah manusia terkecil di antara tiga beruang lainnya. Nonik jugalah yang menurut saya intelektualitasnya cukup mentereng dibanding Saya dan dua teman lainnya. Nonik berhasil membuktikan dirinya bahwa bergabung dengan sebuah patembayan yang berisikan kami berempat bisa lulus duluan meraih gelar sarjana tanpa terkontaminasi partikel-partikel menyesatkan yang berkedok dalam setiap topik bahasan di dalam grup whatssapp. Sekali lagi, nonik memang jawara di antara kami bertiga. Meski begitu, Nonik jugalah pribadi yang tak pernah luput dari bahan ecenan. Tapi nggak papa ya Non. Kadang juga mikir, kira-kira Nonik sakit hati apa nggak ya. Karena kalo soal ngejekin orang, kami bertiga bisalah dijadikan panutan. Dan Nonik jugalah yang saat ini tidak berstatus jomblo di antara kami bertiga. Terimakasih Non sudah menjadi pribadi yang selalu ikhlas dan sabar. 


Cindy. Semacam panda berjenis kelamin perempuan yang tak luput dari kebodohan dan didatangkan secara cuma-cuma langsung dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Cindy satu-satunya mahluk di antara kami bertiga yang hidupnya jauh dari sanak sodara dan bermukim di kos-sosan depan kampus yang sering kami jadikan tempat persinggahan untuk sekedar beristirahat, makan, tidur, masak, hingga buang air besar. Selain itu kos Cindy pulalah yang menjadi saksi bisu pebuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh kami berempat. Bahkan ibu kos yang menjadi dedengkot di tempat kos Cindy pun kerap kami jadikan bahan olokan. Cindy itu sangat berbakat dalam bidang masak-memasak. Apapun bisa jadi masakan asal ada bahannya. Cindy pulalah yang memiliki teknologi kompor mutakhir yang menurut kami adalah produk mengecewakan. Tapi meski begitu, kami juga sering memakainya untuk mengolah bahan makanan hingga menjadi kudapan. Mau bagaimana lagi, kalo adanya cuma kompor itu. Cindy memiliki gaya humor yang sama dengan Saya dan Ine. Cukup bisa dibanggakan untuk soal adu lucu-lucuan sama grup tetangga sebelah. Kalo Nonik, cukup sebagai wasit. Maksimal pengamatlah, karena kalo Nonik tipikal yang nggak tegaan sama orang dan pemaaf yang maha pemurah ditambah diskon dan banting harga. Begitulah Nonik saking punya pribadi yang baik terhadap semua umat di dunia. 

Dan kemarin sore kami menyempatkan untuk berkumpul merayakan hari kedatangan Cindy dari pulang kampungnya. Meski sudah semingguan yang lalu, tapi tetap kerasa euforia-nya karena kudapan yang kami makan disponsori olehnya. 




Berjalan di tahun-tahun terakhir masa kuliah, Saya, Ine, dan Cindy masih juga belum menyempurnakan kewajiban kepada orangtua dan keinginan untuk lekas menyusul Nonik mendapat gelar sarjana. Cita-cita dan target pasti ada karena sudah sewajarnya manusia memiliki tujuan dan jalan hidupnya masing-masing. Dan kami bertiga memilih untuk berusaha bersama untuk melawan rasa bingung dan malas yang tak kunjung menemui titik jenuhnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar