26 Juli 2016

Bila Saja(Ku) Ini Rasamu



Sebenarnya sudah ingin menuliskannya sejak kemarin. Tapi baru kesampaiannya sekarang. Apa boleh buat karena keterbatasan saya dalam hal kuota dan tenaga. Meski begitu, posting-an saya ini juga nggak ada pengaruhnya mau ditulis kemarin, sekarang, ataupun kapan-kapan. Ini cuma hasil kecil yang didapat dari renungan iseng-iseng di tengah malam. Maklumlah, saya tipikal orang yang belum pandai mengatur jam tidur. Dan mungkin juga karena terlampau males mengerjakan sesuatu yang terlalu serius di tengah malam jadinya saya selo banget anaknya. 

Sempat heran dan bingung dengan diri saya sendiri. Seperti bukan saya banget pada saat itu. Tepatnya sekitar pukul 03.56 waktu menjelang subuh. Entah ada angin apa, tiba-tiba saya membuka aplikasi note di smartphone saya dan menuliskan rentetan kata yang tersusun dalam barisan kalimat. Tidak terlalu panjang. Namun setelah selesai menuliskannya, lantas saya membacanya. Cukup dalam ternyata sajak yang saya buat secara spontan ini.

Ajaib memang. Dalam benak saya ketika menuliskannya hanya terlintas satu nama yang masih sama dengan sambatan-sambatan lucu dan menarik di beberapa media sosial yang saya punya. Rasanya ingin tertawa. Setelah selesai menuliskannya, saya merasa sedikit lega dengan perasaan saya. Meski hal itu tak cukup membantu kegundahan hati saya. Cie. Bukannya mau sok puitis atau macak pujangga versi perempuan. Mungkin hanya itu yang saat ini bisa dilakukan untuk mengekspresikan tiap kerinduan saya kepada seseorang yang sangat jauh. Jauh tak hanya berarti jarak. Jauh biasa diartikan dengan banyak makna. Jauh yang masih belum memiliki kekuatan. Jauh yang masih mempercayai ketidakmungkinan. Dan jauh yang belum mampu terselesaikan. 

19 Juli 2016

Mendadak Membaca



Lagi suka baca aja ceritanya. Nggak tau deh tetiba ada angin apa. Dan kebetulan punya temen yang suka baca sekaligus kolektor buku-buku yang ciamik. Jadi deh, mendadak kegirangan membaca. Mungkin awalnya terdengar cuma prestis dan terkesan ikut-ikutan saja kenapa kok tiba-tiba saya jadi suka baca. Suka baca sih, tapi kalo buku, jarang. Paling-paling baca koran, majalah, dan  terutama lini masa media sosial  yang nampaknya cukup konsisten dalam prakteknya. Ya, kenapa saya bilang prestis. Karena saya tipikal orang yang kepo akan banyak hal yang nggak penting dan sangat enggan jika tertinggal isu apapun. Dan yang paling penting, yaa minimal kalo saya diajak ngobrol sama orang, khususnya buku, saya nggak malu-maluinlah. Hehe. 

Mendadak saya mendapatkan beberapa referensi buku yang cukup menarik untuk dinikmati, baik nanya sama temen atau cari tau sendiri soal buku-buku via internet. Sebagian besar dari list bacaan sudah tuntas saya baca. Tetapi saya masih menyimpan beberapa bacaan favorit saya untuk menunggu giliran. Di akhir nanti, setelah semua bacaan sudah dituntaskan, mungkin saya akan memberikan sedikit cerita untuk satu buku favorit dari beberapa list bacaan saya dan menuliskannya di sini sekaligus melatih kegemaran saya untuk kembali menulis. 

Ternyata membaca itu asik. Apalagi jika ditemani dengan segelas es teh dan beberapa snack angin semacam chiki. Sounds good! Tak berhenti di situ saja, merasa asik ketika lembaran-lembaran buku yang saya punya atau bekal pinjam dari teman hanya tinggal menyisakan lembar terakhir yaitu cover halaman belakangnya saja. Mungkin sedikit berlebihan, tapi memang benar adanya dan itu yang saat ini sedang saya rasakan.

Menemukan bacaan yang sesuai dengan apa yang kita sukai seperti halnya seorang anak kecil yang tiba-tiba menemukan sebuah permen coklat di dalam saku celananya. Upredictable!
Selamat membaca!

15 Juli 2016

Oh, Begini Rasanya..

Sedang asik melihat lini masa aplikasi olah pesan di tengah malam. Biasalah, kegiatan anak muda yang lebih gencar mengelus layar gawainya dibandingkan koleksi buku pinjaman hanya untuk kepo atau mencari bahan supaya bisa diperbincangkan di grup rasanan. Tiba-tiba layar yang sedang saya genggam berhenti pada postingan sebuah akun puisi yang belum lama ini saya ikuti. Malam itu berbunyi :

Menjadi Matamu 

Aku sangat suka membayangkan menjadi matamu.
Mengetahui apa saja yang ingin dan tak ingin kau lihat.
Belajar bagaimana caramu memandang sesuatu.
Mengetahui apa saja warna yang kau suka.

Sesekali merasakan bagaimana caramu bersedih.
Bagaimana caramu agar tetap terlihat kuat.
Aku ingin memahami bagaimana rasanya menjadi matamu.
Lalu mengerti apa yang kau rasakan saat menatapku. 



Seketika langsung memahami betul setiap kata dan kalimat di tiap baitnya. Kemudian tersenyum. Belum pernah semelankolis ini membaca sebuah postingan kalimat yang benar-benar syahdu dan merasuk ke dalam sukma. Memang betul, saya ini bukan tipikal 'cah cinta'. Tapi puisi tersebut serasa mewakili perasaan hati saya kepada seseorang yang memang sudah saya kagumi sejak lama. Bukan kagum sebenarnya, lebih mirip pada perasaan jatuh cinta. Namun lagi-lagi belum mampu terucap. Meski begitu, biarlah itu menjadi urusan saya dengan Tuhan. 

Dan benar kata orang, jatuh cinta, sejuta rasanya. Ya, memang benar. Dan hingga kini dan nanti, saya masih sangat nyaman dengan ketidakberanian saya. 
Berada jauh di belakang pundak Anda, melihat dan mengamati apa yang Anda lakukan hingga sedikit berharap Anda dapat melemparkan simpulan senyum kepada saya.
Mr.R!