Namanya Juga Buruh

Sebenarnya sudah hampir 6 bulan memiliki rutinitas yang bisa dibilang ‘profesional’ di mana beraktivitas mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore selama 5 hari dalam seminggu, baik di dalam maupun di luar ruangan dengan satu tujuan yakni membantu perorangan atau korporat mengais keuntungan sebanyak-banyaknya dan sesering-seringnya. Tapi kalo lagi dituntut padatnya jadwal kegiatan di weekend ya tetep aja masuk bos. *apes* Meskipun tidak ada juga hasrat untuk pamer sana-sini perihal pekerjaan yang sedang saya lakukan karena masih banyak orang di luar sana kurang begitu paham dengan pekerjaan saya. Entah saya yang tidak pandai menjelaskan atau lawan bicara saya yang terlampau mengkotak-kotakan profesi sebatas itu-itu saja yang mereka ketahui. Namun sepertinya lebih kepada saya sendiri yang tidak mau orang lain tau apa yang sedang saya kerjakan terlebih pekerjaan saya. Buat saya ngga penting, orang lain tau apa ngga juga ngga akan menambah nominal rupiah di rekening saya. Jadi ya santai aja. Ngga ngefek juga. Hehehe….

Memutuskan untuk ‘nyemplung’ dalam rutinitas yang tengah saya kerjakan bukanlah keputusan yang sulit awalnya. Karena mengetahui stigma sosial di mana setelah wisuda ya seharusnya menghasilkan bukan malah nongkrong di depan televisi sambil menyalahkan negara. Ya, itu salah satu trigger saya mengambil kesempatan ini. Selain itu supaya tetap bisa foya-foya tanpa harus merecoki anggaran Ibu Rumah Tangga karena setiap awal bulan mampu mendapatkan upah selayaknya buruh. Foya-foya dengan mampu membeli keperluan pribadi dan rumah tangga saja sudah cukup bahagia. Ditambah bisa makan di tempat berpendingin ruangan sambil haha—hihi dengan teman senasib menjadi bonus di setiap bulannya.

Punya aktivitas kayak gini aja ngerasa udah bikin lelah dan lebih sering mengeluh. Padahal pengennya kaya tapi masa ngga mau kerja. Duh. Tapi beruntungnya punya partner kerja yang menyenangkan untuk berbagi kekesalan dan menertawai keadaan. Apalagi kalo udah mau menuju akhir bulan, bawaannya kesal. Dan kekesalan itu bisa diredam dengan ritual yang kerap kami lakukan yaitu jajan—mulai dari recehan kayak bakso tusuk, cilok, batagor sampai dengan level-level mengenyangkan kayak yammie panda, hokben, dan ichiban sushi yang tetep dijabanin meskipun akhir bulan. Agak seret ngeluarin anggarannya tapi selalu kami terjang asal buat mood jadi senang. Itu udah jadi santapan yang holy grail banget buat kami karena setiap abis makan selalu happy meskipun tidak berpengaruh juga terhadap beban pekerjaan kami. Tapi yaudalaya….

Ya samalah kayak pekerja-pekerja lainnya, kadang beban kerjaan suka bikin down dan ngerasa kalo ini bisa ngga sih dikerjain, kira-kira target ngga sih, atau bisa selesei ngga ya sebelum deadline. Ditambah lagi kalo lagi bosen dan diomelin atasan. Paket kombo sih kalo ini. Tapi selama punya jalan pintas buat nyikapinnya sih okelah. Masih bisa meratapi kekesalan dengan candaan itu bagi saya sehat. Meski ngga sehat-sehat amatlah. Tapi ngaruh dan ngebantu banget buat mood kerja tiap harinya. Jadi, buat teman-teman di luar sana yang memiliki keluhan serupa maka bersosialisasilah dan jangan terlalu overthingking. Dan yang jauh lebih beruntung karena udah mantul dengan apa yang dikerjakan sesuai keinginan jangan mudah sombong  untuk tetap bergaul dengan kami, apalagi bisa nge-chill bareng minum es teh plus ngebayarin sobat-sobatnya. Wah alangkah damainya negeri ini~
*CHEERS*



Dinding itu terlalu kokoh
Egoisme terpupuk dominan
Bahkan perlakuan itu pun terlampau keras

Satu jiwa yang kau kasihi seketika roboh
Terpecah membentuk pembenarannya sendiri
Satu kepala saja tak cukup mudah untuk ditentang
Dan kini beberapa pasang mata makin menghardik pilihan
yang bukan hak mereka untuk menentang

Ketika lelah dan menyerah adalah pilihan yang menggiurkan
Jiwa itu tak serta merta bermetamorfosa
menjadi seonggok daging hidup yang tak berasa

Liku realita itu menguatkannya berdiri
Menopang apapun yang tak lagi bersinergi
Jiwa yang kini termarjinalkan
Merangkaklah leluasa menembus kebebasan
Dari belenggu tradisi sarat logika.

anka.
Berungkali merasa jatuh
Berulangkali pula merasakan kecewa
Apa ini takdir manusia ?

Mudah memuja paras dan pekerti
Tapi sulit melabuhkan hati bahkan memiliki

Berulangkali rasa kagum ini terpatahkan
Berulangkali pula rindu yang terdesak
tapi tak mampu terucapkan

Sampai kapan manusia menunggu
Untuk mendapatkan cintanya secara wajar
Seperti manusia lainnya
yang menaruh hati lantas terbalaskan

Untukmu,
Manusia di ujung pengharapan
Meski selalu mengeluh dan berpeluh

Akan setia menunggu
kewajaran itu tiba
Dan berpihak kepadanya.

anka.

Sepuluh

Nggak terasa udah mau memasuki penghujung tahun 2017 aja nih. Kurang dari dua bulan lagi udah mendekati 24 taun aja. Bumi benar-benar berotasi dengan cepat...
Meski udah masuk November, saya mau sedikit berbagi kebahagiaan yang ada di bulan kesepuluh kemarin.




Oktober, 2017. Banyak hal baik terjadi di bulan itu. Bulan kesepuluh. Sepuluh yang juga dinilai sebagai angka yang sempurna dalam sebuah skala hitungan. Kurang lebih seperti itulah perasaannya. Sempurna. Menutup akhir taun 2017 dengan kesempatan mewujudkan salah satu cita-cita orangtua. Melihat putrinya mengenakan toga dan mendengar namanya dipanggil ke atas panggung untuk menyaksikan simbolisasi penyematan gelar prestisius yang diseleseikan kurun waktu 4 taun 9 bulan. Benar-benar nyaris mencapai 5 hehe...

Prosesi wisuda ini juga menandai fase di mana tanggungjawab orangtua secara finansial untuk mencukupi pendidikan bagi anaknya sudah selesei. 
Terimakasih atas dedikasi dan kerelaannya menyisihkan sebagian anggaran dasar rumah tangga selama 5 taun ini untuk membiayai 'kid jaman now' ini duduk di bangku kuliah. Alhamdulillah...
Akhirnya saya wisuda seperti teman-teman lainnya.

Senang bisa berkumpul dengan hadirnya orangtua yang lengkap. Bapak yang dengan gentar menerobos perjalanan dari hutan Kalimantan untuk sekedar menyaksikan anak terakhirnya mendapat gelar sarjana di belakang nama panjangnya. 
Selain itu, kehebohan teman-teman yang datang tanpa  menyurutkan niatnya meski hari di mana saya wisuda diguyur hujan yang sangat deras. Bergulir doa, ucapan, dan hadiah yang tiada henti. Bahagia sekali, ternyata saya punya banyak teman, meski cuma itu-itu saja hehe....
Tapi setidaknya mereka bisa membuat saya merasa dicintai dengan berada di sekeliling mereka. 

Hal baik lain yang sama halnya membuat saya bahagia adalah saya bisa menyeleseikan misi studi ini bersama dengan salah satu patner terbaik saya sejak pertama kali menjalani masa perkuliahan, Izzarine Nurdiaz Pramudita, S.Ikom dengan sangat mengagumkan. Menutup usia studi S1 ini dengan predikat cumlaude. Cukup banyak drama pertentangan untuk mencapai titik dan situasi ini. Tapi untungnya kami cukup tangguh melewatinya dan pada akhirnya berhasil melemparkan toga. 
Selamat!❤


Juni Andalan Gue!


WOHOOO!
Akhirnya, sukses juga ngelaksanain pendadaran dan sangat bahagia dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup kerenlah buat dibanggain di depan teman-teman dan sanak saudara :))
Tepatnya tanggal 14 Juni lalu, saya berjuang mempertanggungjawabkan pemikiran yang telah menguras banyak tenaga, uang, dan waktu selama setahun ini. Mungkin ini pula salah satu berkah yang dikasih Tuhan buat saya di sela-sela bulan Ramadhan untuk mempercepat kelulusan saya dan membantu orangtua saya supaya dapat bernafas dengan lega. Terutama siklus pernafasan dompetnya.

Berkah Ramadhan....
Alhamdulillah sangat bahagia bisa menuntaskan wajib belajar 19 taun yang telah dicanangkan oleh orangtua saya. Puas menghabiskan 1.5 jam di dalam ruang sidang dengan kehadiran beberapa teman yang setia untuk menemani dan siap menghujat di kala saya melakukan kesalahan hehe...

Kebayang deg-degannya gimana, yang ada di kepala cuma wajahnya mama doang. Karena gimanapun mama adalah salah satu orang yang selalu support dan menekan bagaimana pun kondisinya. Doa restu dan pelukan mama adalah hal termagis yang membuat saya bisa tenang dan melalui sidang pendadaran dengan lancar dan percaya diri.
Dan, pada akhirnya title bergengsi ini berhasil saya tambahkan di belakang nama saya. Meski belum officially karena revisi dan wisuda masih tak kunjung terlaksana tapi setidaknya bereuforia tidaklah haram hukumnya.

Terlebih bahagia lagi karena salah satu sahabat seperjuangan saya sejak semester satu perkuliahan, di hari dan jam yang sama dapat lulus juga dengan nilai yang memuaskan. Selamat Ben! Yeah, tuntas juga kita akhirnya. Lumayanlah lima tahun dengan pengalaman yang cukup berliku dan signifikan selama masa perkuliahan. Suer! nggak bakalan terlupakan setiap momennya. Ngerasa puas bisa belajar dan berkembang bersama dengan temen-temen jurnalistik lainnya hingga bisa sampe di titik ini dan dinyatakan lulus. Bukannya mau berpuas diri karena udah lulus terus tantangan berenti di situ aja. Saya paham bahwa titik ini adalah permulaan untuk menatap tantangan hidup yang sebenarnya. Tapi rasa ini adalah bentuk apresiasi bagi diri saya terhadap apa yang telah saya lalui dan kerjakan selama 10 semester ini. Selepas dari tanggung jawab revisi dan wisuda terseleseikan, semoga cita-cita saya untuk mendapatkan pekerjaan pun bisa segera terwujudkan. Aaamiiin!


Selamat! Jakarta Punya Pemimpin Baru

Sejak pagi tadi, saya sudah repot mantengin linimasa sosial media untuk memantau jalannya proses pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Bahkan sampai saat ini. Jogja diguyur hujan. Jakarta pun demikian. Rasanya, semesta pun ikut bersedih dan mengamini ketidakpuasan para simpatisan Bapak Ahok-Djarot yang dikenal dengan sebutan TemanAhok untuk tunduk pada pemilu putaran kedua kali ini.

Sebenarnya, saya tidak terlalu ambil pusing dengan hasil pilkada 2017 yang dimenangkan oleh Bapak Anies-Sandi dengan perolehan presentase yang cukup signifikan dibanding petahana, Bapak Ahok-Djarot. Tapi, namanya saja netizen yang budiman. Jadi, rasanya belum afdol kalo belum ikut mengomentari apa yang sedang terjadi di Ibukota Indonesia. Hehe..

Kemenangan Bapak Anies-Sandi bagi saya bukan hal yang mengejutkan. Karena, apa yang telah dilakukan mereka dengan tim pemenangan beserta simpatisan sudah cukup menyita perhatian saya sejak awal mereka mengumumkan sebagai pasangan penantang. Sentimen negatif dan isu SARA ibarat menjadi modal jualan politik yang tak ada habisnya diperdebatkan selama beberapa bulan masa kampanye. Dan, tentu saja hal tersebut begitu terasa dengan hasil yang di dapat saat ini. Belum lagi, siapa saja pesohor politikus yang terlibat  di balik kekuatan tim mereka.

Mungkin ini adalah jawaban bagi Bapak Anies-Sandi untuk bisa membuktikan dan merealisasikan bagaimana wacana serta program-program unggulannya membenahi Jakarta dengan menggunakan pendekatan yang lebih 'humanis' (katanya) demi kesejahteraan warga Jakarta. Tapi kalo boleh beropini sih, Jakarta itu luas. Jakarta itu keras. Jakarta itu rumit, Di tambah jika pemimpinnya hanya sibuk berdialektika tanpa ada pencapaian untuk membuat perubahan. Mungkin mulai hari ini, Bapak Anies-Sandi sudah harus menyingsingkan lengan pakaian untuk lebih bekerja keras melayani kebutuhan masyarakat Jakarta. Dan, tentunya bersinergi dengan pencapaian program kerja, baik yang telah, akan, dan belum dituntaskan oleh Bapak Ahok-Djarot.

Kalo boleh jujur, belum ada keoptimisan dari saya untuk melihat Jakarta setelah Bapak Ahok-Djarot meninggalkan kursi balaikota. Jangankan saya yang di daerah, yang nggak ada hubungannya. Apalagi masyarakat Jakarta yang meletakkan amanah dan kepercayaannya pada Bapak Ahok-Djarot sebagai pelayan publik selama lima tahun. Pasti sedih. Pasti bakalan susah move on juga. Dan, saya pun bisa merasakan itu. Mungkin ini yang dirasakan warga Amerika ketika Hillary Clinton gagal terpilih menjadi presiden mereka. Tapi apapun itu, demokrasi tetap harus dijunjung tinggi. Bersikap sportif dengan hasil yang diperoleh. Dan, alangkah bijaknya jika mulai menanggalkan atribut masing-masing pendukung dan bersama membenahi dan merawat ibukota ke arah yang lebih baik lagi.

Untuk Bapak Ahok-Djarot, saya adalah salah satu penggemar bapak dari Jogja. Terlepas bagaimana karakter Bapak Ahok yang banyak mendapat protes maupun kecaman keras. Saya tetap mendukung bapak untuk menuntaskan kewajiban sebagai gubernur hingga masa jabatan berakhir. Saya yakin bapak sudah legowo dan berusaha berbuat yang lebih baik lagi hingga Oktober 2017 mendatang. Jangan bersedih Pak. Tetap semangat. Tenaga serta pemikiran Bapak masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia meski tak lagi memimpin Ibukota. Selamat bekerja Pak, tuntaskan segalanya, dan tersenyumlah lebar untuk masyarakat Jakarta.



It's Your G-Day, My Fellows!

Masih belum bisa lepas dari perayaan wisuda temen-temen sejawat pekan lalu. Meski bukan hari besar saya, tapi saya cukup senang dan bahagia bisa terlibat dan berada di antara mereka. Merayakan hari jadi penuntasan wajib belajar yang telah ditetapkan oleh orangtua masing-masing. Yeah! Now, you're officially bachelor and so damn cool friends!








Namanya Juga Buruh

Sebenarnya sudah hampir 6 bulan memiliki rutinitas yang bisa dibilang ‘profesional’ di mana beraktivitas mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore se...