Langsung ke konten utama

Juni Andalan Gue!


WOHOOO!
Akhirnya, sukses juga ngelaksanain pendadaran dan sangat bahagia dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup kerenlah buat dibanggain di depan teman-teman dan sanak saudara :))
Tepatnya tanggal 14 Juni lalu, saya berjuang mempertanggungjawabkan pemikiran yang telah menguras banyak tenaga, uang, dan waktu selama setahun ini. Mungkin ini pula salah satu berkah yang dikasih Tuhan buat saya di sela-sela bulan Ramadhan untuk mempercepat kelulusan saya dan membantu orangtua saya supaya dapat bernafas dengan lega. Terutama siklus pernafasan dompetnya.

Berkah Ramadhan....
Alhamdulillah sangat bahagia bisa menuntaskan wajib belajar 19 taun yang telah dicanangkan oleh orangtua saya. Puas menghabiskan 1.5 jam di dalam ruang sidang dengan kehadiran beberapa teman yang setia untuk menemani dan siap menghujat di kala saya melakukan kesalahan hehe...

Kebayang deg-degannya gimana, yang ada di kepala cuma wajahnya mama doang. Karena gimanapun mama adalah salah satu orang yang selalu support dan menekan bagaimana pun kondisinya. Doa restu dan pelukan mama adalah hal termagis yang membuat saya bisa tenang dan melalui sidang pendadaran dengan lancar dan percaya diri.
Dan, pada akhirnya title bergengsi ini berhasil saya tambahkan di belakang nama saya. Meski belum officially karena revisi dan wisuda masih tak kunjung terlaksana tapi setidaknya bereuforia tidaklah haram hukumnya.

Terlebih bahagia lagi karena salah satu sahabat seperjuangan saya sejak semester satu perkuliahan, di hari dan jam yang sama dapat lulus juga dengan nilai yang memuaskan. Selamat Ben! Yeah, tuntas juga kita akhirnya. Lumayanlah lima tahun dengan pengalaman yang cukup berliku dan signifikan selama masa perkuliahan. Suer! nggak bakalan terlupakan setiap momennya. Ngerasa puas bisa belajar dan berkembang bersama dengan temen-temen jurnalistik lainnya hingga bisa sampe di titik ini dan dinyatakan lulus. Bukannya mau berpuas diri karena udah lulus terus tantangan berenti di situ aja. Saya paham bahwa titik ini adalah permulaan untuk menatap tantangan hidup yang sebenarnya. Tapi rasa ini adalah bentuk apresiasi bagi diri saya terhadap apa yang telah saya lalui dan kerjakan selama 10 semester ini. Selepas dari tanggung jawab revisi dan wisuda terseleseikan, semoga cita-cita saya untuk mendapatkan pekerjaan pun bisa segera terwujudkan. Aaamiiin!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siap Nggak Siap Sih...

Jadi seperti ini rasanya. Memiliki rasa takut yang masih abu-abu.
Terdengar aneh, memang, karena ini terasa sekali. 
Bahkan, hingga nanti saat saya mulai kembali membaca tulisan ini lagi.

Ketakutan saya semakin menjadi-jadi.
Jika saja ada cara untuk menghilangkan rasa takut ini dengan berteriak. 
Maka itu adalah pilihan yang akan saya ambil. Saya akan berteriak bahwa saya takut.

Saya takut.
Terlebih, ketika kewajiban saya sebagai seorang mahasiswa akan menyentuh babak akhir.
Itu juga menandakan bahwa saya harus siap untuk menjalani realita hidup sebagai individu yang mulai menanggung beban dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. 
Bukan lagi orangtua.
Saya takut.
Ketika bangun tidur dan membuka mata mendapati diri saya bukan seorang mahasiswa lagi. Melainkan salah satu dari ribuan 'sarjana nganggur' yang memperebutkan status pekerjaan.
Memang saya tipikal realistis tapi tak jarang saya juga takut pada realita. 
Lucu memang. Tapi tak apalah. Toh, manusia juga memiliki haknya untuk menert…