(Lagi-lagi) Jadi Penggembira


Dalam seminggu ini, berturut-turut kembali memeriahkan sidang pendadaran teman satu angkatan. Tidak terlalu spesial karena lagi-lagi saya hanya menjadi penggembira di antara teman-teman yang dengan susah payah telah berhasil menyabet gelar prestisius di belakang nama mereka. 
Senang sekaligus sedih. Beberapa teman yang juga menjadi sahabat satu-persatu mengambil pilihan untuk lebih dulu menapaki fase lanjutan dari sebuah gelar sarjana. Fase yang lebih serius tentunya yaitu mencari kerja atau malah menjadi beban keluarga. Pilihan yang kurang bersahabat memang,tapi mutlak untuk dijalani kalo tidak mau berakhir dengan stigma 'pengangguran' oleh society. Ya, seringnya mulut society lebih mengiris hati dibanding perkataan Ibu pada saat membangunkan pagi untuk kuliah atau memeberikan pertanyaan sakral "kapan kuliahmu rampung?" 
Untuk itulah rekan-rekanku, selamat menjalani hari-hari tanpa status mahasiswa dan lekaslah berbenah menjadi harapan bagi keluarga. Cheers!


Fauzan Thoriq Perdana Kusuma, S.Ikom
Cindy Chintya Eprilianti, S.Ikom

by. teman penggembira pendadaran 
Sepi itu indah ?
Terkadang...
Tapi entah mengapa
Aku lebih suka keramaian

Bukan tentang hingar bingar
atau hiruk pikuk manusia
Ramai pun bisa tercipta
Meski hanya dengan aku dan kamu
yang lantas menjadi 'kita'

Degup jantung ini 
tak terdengar sempurna
Terlebih ketika saling bertukar
arah pandangan mata

Di antara diam dan tatapan muka
Aku pun berdoa
Seraya memejamkan mata
Memuja kekaguman yang hinggap
menghiasi pemandangan indera

Apa mungkin ini pertanda cinta ?
Entahlah...
Tapi satu hal yang kuyakini
Jatuh cinta itu anugerah
Meski tak selalu mudah. 

anka. 

It's love when someone can touch 
you without using their hands.
- Faraaz Kazi -

Pandangan pertama tak membahas dusta
Ia bekerja spontan
Merefleksikan penglihatan dengan apa yang dirasakan
Hinggap pada siapa pun tanpa perlu persyaratan 
Hanya saja 
Tak semua pasang mata itu mau mengiakan

Ada yang berkata 
Pandangan pertama bukanlah segalanya
Sedangkan bagi saya
Itu awal dari sebuah petualangan

Pandangan pertama tak semata menyoal paras
Sebab mata tak hanya melihat
Ia sanggup pula menilai 
Bagaimana kharisma yang menawan
Bukan hanya sekedar rupawan

Pandangan pertama laksana jatuh cinta
Datang tiba-tiba
Tanpa rencana
Menyeruak kapan saja
Melalui medium yang tak terduga. 

anka. 

Rare Moment.


Berlatar belakang sebuah gerai aksesoris yang cukup fenomenal di kalangan anak SMP semasanya. Iseng-iseng sedang mencoba hiasan kepala yang kini sedang nge-trend. Kemudian secara tidak sengaja tapi agaknya cenderung pada tindakan sengaja diabadikan dengan klasik oleh fotografer kawakan saya, yaa  Ine Pramudita. Seorang perempuan yang tak pernah absen membawa sebuah kamera pocket Canon G16 pada selipan tas bawaannya itu. Dan seperti biasa, hasil jepretannya pun tak pernah mengecewakan. Meski sang objek tampaknya kurang begitu memuaskan untuk dilihat. Akan tetapi, cukuplah untuk bahan posting-an di akun instagram hehe...

fyi. Di stroberi padahal nggak boleh mengambil gambar apalagi cuma buat gaya-gayaan di foto tanpa membeli. Tapi dengan piawai kami berhasil mengabadikannya.