Rare Moment.


Berlatar belakang sebuah gerai aksesoris yang cukup fenomenal di kalangan anak SMP semasanya. Iseng-iseng sedang mencoba hiasan kepala yang kini sedang nge-trend. Kemudian secara tidak sengaja tapi agaknya cenderung pada tindakan sengaja diabadikan dengan klasik oleh fotografer kawakan saya, yaa  Ine Pramudita. Seorang perempuan yang tak pernah absen membawa sebuah kamera pocket Canon G16 pada selipan tas bawaannya itu. Dan seperti biasa, hasil jepretannya pun tak pernah mengecewakan. Meski sang objek tampaknya kurang begitu memuaskan untuk dilihat. Akan tetapi, cukuplah untuk bahan posting-an di akun instagram hehe...

fyi. Di stroberi padahal nggak boleh mengambil gambar apalagi cuma buat gaya-gayaan di foto tanpa membeli. Tapi dengan piawai kami berhasil mengabadikannya. 

Pupus.

lama rasanya tak mengingatmu
entahlah, 
apa mungkin aku mulai bosan ?
bahkan sajak rindu yang selalu ku buat untukmu pun
kini hambar rasanya

sesekali ku coba tengok kembali
untuk mengingat dirimu yang pernah singgah dalam hati
tapi sayangnya,
aku tak menemukan perasaan yang sama
ketika awal ku mulai jatuh hati

aku jenuh
karena hanya menunggu
tapi tak pernah mau mengadu

aku lelah
lantaran hanya diam
dan tak pernah mau berjuang

barangkali memang sudah saatnya
mengakhiri semua angan
yang tak akan pernah mampu 
untuk diperjuangkan.

anka.

NG-ARTSY


Melakukan aktivitas menyenangkan di akhir pekan bersama orang-orang yang menggemaskan. Mencoba bereksperimen dengan menggunakan media kain yang dicelap-celup dengan pewarna atau dinamakan dengan teknik shibori. Cukup nge-trend beberapa tahun belakangan ini, kain shibori yang begitu fantastis harganya untuk kalangan pangsa pasar mahasiswa kelas menengah biasa aja yang cenderung lebih suka nyiyirin harganya karena iri nggak bisa beli.

Shibori adalah salah satu teknik pewarnaan celup ikat asli Jepang dengan menggunakan bahan alami daun indigo. Dan uniknya, kain shibori ini tidak dilukis ataupun digambar, melainkan dengan pembuatan pola yang menurut saya sangat ngide sekali dan unpredictable. Gimana nggak, sang creator bebas mengeksplorasi pola dengan cara melipat kain, kemudian mengikatnya dengan tali atau karet, atau bisa juga dengan digulung memakai bambu kemudian diikat menjadi beberapa ruas guna mendapatkan pattern yang sesuai dengan keinginannya. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan, semakin kreatif atau out of the box polanya, maka akan semakin mengejutkan pula hasilnya. Itu yang bikin menarik dan memuaskan. Jadi nggak heran kalo kain shibori itu sedikit agak bunyi harganya. Apalagi kalo udah jadi baju. Aduh...belum kuat deh belinya.

Nah, sabtu kemarin saya dan dua teman saya, Ine dan Diah mencoba melakukan workshop kecil-kecilan untuk membuat kain shibori ini. Workshop kali ini disponsori oleh Ine yang dengan sukarela mempersilahkan kami berdua untuk sedikit mengacak-acak kamar dan loteng rumahnya.

Ternyata cukup gampang-gampang susah pengaplikasiannya. Sebelumnya kita juga berbelanja bahan-bahan apa saja yang akan dibutuhkan, seperti pewarna, larutan Hcl, Nitrit (yang digunakan untuk proses pencelupan kain), dan beragam jenis kain mulai dari kanvas, blaco, hingga katun saten. Tak lupa juga browsing di Pinterest untuk mencari beberapa pola kain shibori supaya memudahkan kita dalam proses pengerjaannya. Dalam pengerjaannya memang dibutuhkan 'sok ide' yang sangat tinggi supaya mendapatkan hasil yang yaa bisa dibilang agak lumayanlah untuk kelas pemula seperti kami bertiga. Haha...
Dan karena namanya manusia yang sarat akan kepuasan, maka kami bertiga memutuskan untuk mengadakan kembali workshop shibori jilid kedua yang bakal dilaksanain minggu depan. Jadi mari kita tunggu hasilnya ;))

Terimakasih juga Ine yang telah mendokumentasikan kegiatan celap-celup ini dengan ciamik. Jadi makin kece dan keliatan lebih ARTSY lagi deh kita!


rindu itu berjarak
tak kenal jauh ataupun dekat
namun begitu lekat
bahkan mampu buatku penat

rindu itu bagai ruang hampa
kosong tak bernyawa
kuasa menguap kapan saja
tapi sanggup buatku bergelora

nyatanya,
aku tak pandai mengucap rindu
tak satupun berhasil memintasnya 
dari indra pengucapku

bukan lantaran tak mahir mengejanya
tetapi lebih pada mawas diri
untuk sekedar memupuknya dalam hati

sebab rindu ini mengerti
bahwa ia takkan pernah sampai
pada tujuan akhirnya. 

anka.