Setengah Tahun Ini

Cek cek 1 2 3 cek cek....

Terakhir corat-coret di sini itu persis sebelum ada postingan tulisan ini. Wah pribadi yang males juga ya ternyata kembali nulis dan cerita ngalor ngidul. Ini juga kalo iya jadi di-publish, kalo tidak pun yaa ngga papa juga.

Entah kenapa beberapa cerita bahkan sambatan banyak dihabiskan di Twitter dan Medium. Mungkin karena dua platform itu lebih bisa sekaligus digunakan sambil melakukan kegiatan lain dalam satu kali genggaman gawai. 

Singkat cerita tahun 2019 berjalan dengan sangat baik, meski tetap saja masih kelimpungan dari segi finansial diri. Tapi bersyukur punya rutinitas yang hasilnya selalu bisa diandalkan setiap tanggal 25. Lalu di tanggal selanjutnya entah memuai ke mana seperti kentut. 

Dua ribu sembilan belas. Berutinitas sebagai seorang pegawai outsource yang berperan membantu menyelesaikan kendala konsumen melalui Email tapi tak jarang juga by call. Ngadepin dan nanganin konsumen mulai dari yang ramah hingga mengundang amarah. Semua dikerjain sampai penghujung tahun karena awal tahun 2020 sudah berganti project.

Singkat cerita, 2020. Di permulaan tahun sudah dipaksa meng-handle beberapa situasi yang rumit. Rasanya otak dan jantung sering tidak sinkron. Berasa bukan berdetak dengan ritme jeda yang teratur melainkan seperti dikokang seperti senjata agar otomatis siap dan tetap hidup. Kewajiban mendampingi Mama demi kepulihan Bapak selama 54 hari di rumah sakit. Ditambah sikon Indonesia dari Maret hingga sekarang dilanda pandemi yang tidak tau sampai kapan bakalan udahannya. Belum lagi, suasana Lebaran tahun ini yang sangat jauh dari romantis dibanding hari-hari tanpa perayaan. Kecemasan dan kesedihan tumplek jadi satu dalam setengah tahun ini. 

Kalo mau diruntut dan dipikir, semuanya berjalan di luar logika dan nalar. Banyak yang dikorbankan tapi tidak jarang juga rangkaian hal baik yang kami rasakan. Suka ngerasa takjub sama diri sendiri di mana masih bisa berdiri ngejalanin dan berusaha untuk tidak ngerugiin orang lain di situasi yang rumit sekalipun. Tapi sebangga apapun sama diri sendiri, tidak ada yang lebih berlipat hebat dan kuatnya menjadi seorang Mamaku sendiri.

Di samping itu, keinginan Bapak yang kuat, akhirnya bisa ngebawa semangatnya untuk pulih dan sehat kembali. Meski pada prosesnya masih ada aja kekurangannya dan hingga kini kami pun masih selalu belajar untuk beradaptasi. Tapi aku jadi ngerti kalo kekurangan yang saat ini dialami Bapak, jadi kewajiban aku dan kakakku buat ngisi supaya kebutuhan Bapak terpenuhi.




Apapun itu, demi kesembuhan Bapak dan kebahagiaan Mama, akan kami usahakan sepenuhnya. Mungkin akan sangat aneh tetiba mengungkapkan ini tanpa ada bridging yang tepat. Untuk Bapak dan Mama, aku memang sangat sulit dan gengsi mengungkapkan secara langsung rasa sayangku ke kalian tapi bagaimanapun cara dan situasinya nanti, aku selalu sayang kalian. Semoga kalian sehat selalu dan berumur panjang. Semoga tidak pernah lelah mendampingi kami menjadi seseorang yang kelak bisa membawa manfaat baik dan berbakti kepada orang tua. Doakan anakmu yang keset ini agar selalu bisa diandalkan. Akupun berharap agar setengah tahun dan tahun-tahun ke depan banyak rentetan hal baik terjadi dan semoga semuanya lekas membaik. 

Amin.


*2019'S ALERT* Sebuah Resolusi (yang masih) Blawur

Dikonsep dan dipotret dengan cukup nyeni oleh Ine Pramudita karena lagi-lagi demi perkara konten.
Kemudian dipulas sedikit supaya terlihat lebih estetik oleh saya.

*buka twitter* scroll timeline sampe pagi
*buka instagram* scroll timeline, ngetapin snapgram, liat-liat explore banjir pada bahas resolusi apa yang cocok diekspektasikan taun depan, tepatnya tinggal beberapa hari lagi menginjak taun baru dengan segala aspek kehidupan yang dicitakan lebih baik dibanding sebelumnya. Kebanyakan orang memang seperti itu. Wajar aja kok, menyambut pergantian taun dengan suka cita, memanjatkan harapan yang terkadang tidak terlalu konsisten dijalani dan terbengkalai di pertengahan tahun atau bahkan hanya hitungan bulan saja. Haha memang ada-ada saja kadang kita ini. Tapi ngga sedikit juga yang dengan tekun melalui berbagai proses untuk sampe di titik capaian yang mereka inginkan. Mission complete-lah ibaratnya. Hormat buat mereka yang bisa konsisten dalam menikmati proses hingga membuahkan hasil. 

Bicara resolusi, makin tahun makin tidak ada gegayuhan yang berlebih. Bukan karena takut tidak terealisasi atau kepalang cuma isapan jempol aja. Salah satu alesannya karena aku adalah pribadi yang kurang cakap membuat perencanaan atau to do something untuk jangka waktu yang panjang. *sebuah mistake*

Lha sedih banget dong, ngga punya mimpi atau motivasi ke depannya ? Hahaha. Bukan ngga punya, selama manusia dikasih nyawa, pasti dia punya harapan dan tujuan yang pengen diraihlah pastinya. Cuma bedanya, kebetulan aku belum termasuk orang yang percaya diri untuk nge-list segala keinginanku. Padahal banyak orang bilang, lebih baik dirinci satu persatu supaya kita tau 'sedang di mana' dan 'apa yang harus dilakuin' untuk memperjuangkan list tersebut supaya terlaksana satu-satu. Terus kalo gitu, apa dong wacana 2019 selain diramaikan dengan resolusi tagar gantipresiden2019 yang diagung-agungkan oleh sebagian banyak golongan itu. Wikwikwik. 

Sedikit flashback apa yang terjadi di tahun ini. Mungkin jadi salah satu trigger juga. Banyak hal terjadi di luar dugaan, prediksi, dan beberapa harapan pupus begitu saja. Rasanya ngalir, susah seneng, dari yang tadinya berencana sampe menyerahkan segalanya. Tapi dengan begitu jadi lebih banyak bersyukur dan sedikit tau 'sedang di mana' sekarang. Mencoba untuk selalu berbesar hati, meski masih harus berusaha karena ternyata tidak semudah yang diucapkan. Hoho. 

Sebentar lagi berganti tahun, bukan tidak mau melewatinya dengan suka cita. Namun, sedikit lebih insecure dengan apa yang bisa dilakuin di taun depan. Kalo kata orang jogja, iseh blawur rasane, raiso mbayangke, teko dilakoni wae. Nah, sepertinya itu kalimat yang lebih tepat. Biarlah harapan dan mimpi bersarang di pikiran masing-masing, baik mau diramaikan dengan tagar resolusi2019 atau tidak, bukanlah sebuah perkara. Yang terpenting adalah selalu memberi tenaga di setiap wacana yang diperjuangkan, sapa tau emang rejekinya. Dan, untuk mereka yang sudah siap dengan resolusi hidup taun depan, semoga selalu tercentang dengan senyuman :)

Selamat merayakan tahun baru. Selamat datang 2019! *cheers*

Berawal dari Playlist



Kau harus bisa bisa berlapang dada
Kau harus bisa bisa ambil hikmahnya
Karena semua semua tak lagi sama
Walau kau tahu dia pun merasakannya
Kemana ini akan membawaku
Aku takkan pernah tahu

Tentunya akrab di telinga kita. Yap, benar. Itu beberapa penggal bait lagu Sheila On 7 yang berjudul Lapang Dada, yang ngga tau kenapa belakangan ini relate di kehidupan sosial dan lingkup pertemananku. Bahkan sangat direkomendasikan untuk diucapkan lebih keras dan lantang pada saat menyanyikannya. 
Menurutku, lirik lagu ini punya makna kontekstual atau "Aku banget nih" untuk merepresentasikan batin seseorang yang pernah atau sedang mengalami give up, kecewa - dikecewakan, meninggalkan - ditinggalkan, bahkan mengalami kegagalan, baik dalam drama percintaan maupun proses menjalani kehidupan *yang selalu ingin terlihat sempurna*.
Lirik lagu ini bisa jadi reminder buat diri kita bahwa setiap orang punya masalah dan situasi yang tidak mudah. Setiap orang pernah dan akan selalu berusaha memperjuangkan segala sesuatu yang menurutnya baik dan pantas untuk diperjuangkan.
Berusaha, punya tekad bulet bahkan ngga berenti doa yang ditujukan ke yang buat kita bisa bernafas sampai hari ini pun kalo emang belum rejeki atau jalan yang disiapin buat kita berpijak, yaa kita harus berbesar hati dong nerima kenyataan itu. Ikhlas men. Manusia emang bisanya berusaha maksimal dan berdoa. Tapi jangan lupa juga kalo manusia itu dikasih akal buat think smart.



Seberat dan sesualit apapun situasi dan masalah yang dihadepin. Ikhlas itu bukan berarti nyerah, kalah, pasrah gitu aja dan memutuskan proses hidup atau usaha yang lo lakuin itu selesai. Bukan men. Berbesar hati malah jadi langkah awal buat bisa lebih dewasa, bijak, dan mawas dalam memandang dan nyikapin apa yang bakal dihadepin di depan nanti.
November ini ngerasa beruntun ketidakberhasilan terjadi. Sempet agak nyolot sama situasi yang ada dan mencari kambing hitam dari persoalan ini. Bahkan keyakinan aja sempet pasang surut. Merasa udah mengerahkan usaha, mental, dan sumber daya. Belum lagi dibela-belain kesana kemari. Tapi balik lagi, mau semaksimal apapun kalo belum jalannya, bisa apa.
Sempet ngeklaim kalo aku bakal siap dan bisa ngelewatin beberapa proses ini dengan baik. *Tapi ternyata tidak semudah itu ferguso* Namun kenyataannya, baik saja tidak cukup dikategorikan berhasil. Manusia emang tempatnya sombong, takabur, dan sotoy. Lupa kalo ada yang lebih berhak, mutlak, dan pasti di atas sana. Mau sesempurna apa rencana dan persiapan yang dibuat, ngga secara otomatis hasilnya bakal sesuai ekspektasi kalo yang di atas belum ngasih. Siapnya kita belum tentu berjodoh. Dan keberuntungan itu ada karena emang udah di atur alurnya sama yang punya kehidupan.



Tarik nafas panjang, tahan bentar, terus buang perlahan. Jangan lupa selalu ucap syukur lalu senyum. Dan saat itu lah, saat terbaik buat mulai lihat ke dalam diri kita, sudah sejauh apa kita berusaha, sudah seikhlas dan sesiap apa kita untuk menyerahkan segala perjuangan dan menerima hasilnya. Dan mulai menguliti satu persatu pertanyaan besar "Kenapa kita masih belum berhasil hari ini ?". Banyak yang bilang kalo kesempatan itu ngga dateng dua kali. Emang mutlak ? Ngga usah dipikiran mau dateng berapa kali, itu cuma prediksi. Mending sibuk mempersiapkan amunisi dan mulai ngeyakinin diri untuk "Besok harus kita coba lagi" begitu peluang muncul maupun menghampiri. 
Di sisi lain, bulan ini juga jadi bulan yang istimewa. Bulan yang jadi awal untuk menjaga dan mempertahankan komitmen satu sama lain. Mereka yang dipertemukan dalam suasana baik, semoga selalu di dekatkan dan dipersatukan dalam suasana yang baik pula. Dan, untuk yang belum berhasil memulai komitmen, mungkin yang satu ini bisa menjadi solusi.
Tenangkan hati. Semua ini bukan salahmu. Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi. Yang dicari hilang, yang dikejar lari. Yang ditunggu, yang diharap. Biarkanlah semesta bekerja untukmu. 
Karena pikiran ini terjadi begitu saja dan buah dari set playlist lagu yang sering diperdengarkan ketika lagi sibuk doing nothing. Jadi sebagai penutup, penggalan bait lagu milik Kunto Aji yang begitu menyihir pesimisme menjadi optimisme ini sepertinya pas bahwa dalam kehidupan ada kalanya tidak boleh terlalu 'ngoyo' kalo kata orang Jawa. 





Mana Yang Lebih Baik ?

Tepat seminggu. Kembali menjadi tunakarya.
Haruskah terpukul atau malah mengucap syukur ? Hmm...

Selepas menjalani rutinitas bekerja selama hampir 10 bulan. Pada akhirnya bisa dibilang menyerah untuk menyelamatkan diri. Haha agak sedikit membingungkan ya. Menyerah tapi kok bisa selamat. Biarlah premis ini cukup saya dan Tuhan yang bersenang-senang.

Setelah bergulat dengan diri sendiri cukup lama, kata 'resign' pun terucap dengan ikhlasnya. Melepaskan pendapatan yang tidak seberapa untuk mendapatkan kehidupan yang dicita-citakan dapat berharga di luar sana. Haha...

Perasaan lega. Alhamdulillah. Bisa membernikan diri untuk lepas dari ini. Bukan untuk lari dari tanggungjawab. Hanya saja mungkin kapasitas saya sudah sampai pada ambang batas. Merasa tidak berkembang dan hasrat untuk menjajal hal baru lainnya kian tinggi. Tapi kalo bicara tanggungjawab. Manusia tidak akan pernah bisa luput dari tanggungjawab, baik selama hidup ataupun sudah di liang lahat. Pertanggungjawaban itu mutlak. Tinggal bagaimana menerima dan menjalaninya satu persatu tanpa harus merugikan orang lain.

Saya rasa mungkin memang ini waktunya. Meskipun keputusan ini juga belum membuahkan panggilan kerja lainnya. Biarlah orang mau berkata apa. Mulai dari 'yang kurang bersyukurlah, terlalu percaya dirilah, atau aroganlah'. Terserah. Karena saya yakin atas apa yang saya pilih. Saya bersyukur karena bisa mengikhlaskan apa yang menjadi pilihan saya dan tetap berusaha untuk mencari peluang dan kesempatan di tempat lain. Semoga saya tidak cukup bosan menunggu korporat atau instansi mana yang pada akhirnya tertarik untuk meng-hire dan berkesempatan mengembangkan potensi diri saya lebih luas lagi bersama mereka. 

Well. I hope it works, as soon as possible. 

Bapak...


Tiga September 2018.
Sudah terbayang sejak sehari sebelumnya menatap Senin yang indah karena mendapat jatah libur sehari setelah aktivitas pekerjaan di setiap weekend. 

Tapi ternyata Yang Di Atas berkehendak lain.
Pagi, kurang lebih setengah delapan. Bapak tergolek lunglai di sebelah tempat tidur. Setengah sadar, berkeringat dingin, tanpa ucapan apapun. 
Panik karena belum pernah bapak mengalami seperti ini sebelumnya. Tanpa pikir panjang, rumah sakit adalah pilihan tercepat untuk dituju. Setelah mendapatkan tindakan di UGD dan ct scan bapak terindikasi gejala stroke karena ada pendarahan di otak sebelah kiri dengan volume pendarahan yang cukup luas, 25 cc. 

Setelah malam sebelumnya masih terlibat obrolan dengan bapak sambil menonton siaran penutupan Asian Games dan pagi hari mendapat kenyataan seperti itu. Bukan main rasanya. Pikiran kemana-mana karena bapak harus mendapatkan perawatan intensif dan bukan perkara mudah tentunya. Apalagi berkaitan dengan kepala — otak. Sungguh di luar dugaan. 

Pihak rumah sakit menyarankan untuk di rujuk ke rumah sakit lain yang memiliki dokter ahli dan fasilitas sesuai dengan perawatan yang dibutuhkan. Aku dan keluarga pun menyetujui karena bapak harus mendapatkan tindakan segera. 
Pendarahan otak. Membayangkan mengulang namanya saja tidak pernah. Tapi kenyataan berkata lain. Aku dan keluarga harus menghadapi kenyataan itu untuk pertama kalinya. Setelah dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Bapak mendapatkan ruangan khusus di Perawatan Stroke Akut (PSA) karena diperlukan perawatan yang intensif dengan interaksi dari pihak luar dan waktu kunjung minim. 

Dalam ruang PSA, bapak ditemani oleh beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya, 3 perawat jaga 24 jam, dan 3 pasien lainnya. Lampu redup, dingin, minim suara selain bunyi alat rekam jantung yang membuat merinding, tirai-tirai lebar yang menjadi pembatas antar ruang, dan jendela kaca film yang menjadi sekat antara pasien dan penunggu adalah situasi yang cukup sulit bagi kami.

Pasti sulit, terlebih bagi mama yang setiap hari beraktivitas bersama bapak. Mulai dari bersepeda, ngobrol ngalor ngidul, sholat berjamaah, hingga memarahi anak-anaknya. Kini harus dibatasi dan diperbolehkan berinteraksi hanya pada saat jam tertentu. Hari pertama yang mengejutkan, melelahkan, dan penuh kekhawatiran. Namun, terlewati dengan perasaan sedikit lega karena bapak sudah tertangani medis dan beristirahat dengan nyaman. 

Malam kedua menjadi hari yang mengejutkan kembali. Setelah mendapatkan kunjungan dokter ahli bedah syaraf sekitar jam setengah sepuluh malam. Dokter menyarankan agar bapak segera dilakukan tindakan operasi penyedotan pendarahan untuk meminimalisir terjadi perluasan. Saya dan Mas Danny sudah memprediksi hal ini sebelumnya. Dan kami menyetujui bersama mama untuk mengikuti saran dokter, apapun resikonya pasti ada. Untuk kembali normal pasca operasi pun mustahil, banyak komplikasi yang pastinya akan ada. Entah perubahan intensitas fisik maupun daya tahan otak. Berbagai penjelasan kemungkinan-kemungkinan secara teknis dijelaskan cukup jelas oleh dokter. Kami tau ini berat. Tapi bukan kapasitas kami jikalau melarang jalan terbaik yang harus ditempuh agar bapak bisa segera keluar dari situasi ini. 

Pemicu pendarahan otak yang diderita bapak adalah karena tekanan darah tinggi yang mencapai 190/110. Dan itu yang menyebabkan pembuluh darah otak di sebelah kiri pecah dan terjadi pendarahan. Indikasi dokter seperti itu. Yang kami tau, bapak tidak ada riwayat hipertensi. Bapak termasuk orang yang paling rajin untuk check up ke puskesmas tiap sebulan sekali untuk mengecek jantung, kolesterol, dan tensi. Hasilnya pun baik, tidak pernah melewati batas kewajaran. Kalo pun tensi naik masih berada dalam hitungan normal karena bapak cenderung kurang tidur atau senang begadang. Soal makanan pun bapak jauh lebih selektif dan hampir tiap hari yang dikonsumsi kalo nggak tahu, tempe, telur, dan sayur. Selebihnya sangat jarang karena itu adalah menu favorit bapak. Selain itu, bapak juga rutin melakukan donor darah setiap 3 bulan sekali. Dan kejadian ini benar-benar di luar dugaan kami. 

Hari kedua dan ketiga dilewati dengan kekhawatiran yang semakin menjadi-jadi. 
Namun, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Hari keempat kami mendapatkan kabar baik bahwa kondisi bapak stabil, alat vital berfungsi dengan baik, kesadaran dalam level yang baik, tidak ada mual atau muntah, intensitas batuk pun rendah. Kepala perawat menyampaikan dengan kondisi bapak seperti ini, bapak tidak perlu melakukan operasi setelah beberapa hari lalu dilakukan observasi. Dan bapak sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap untuk pemulihan. Perasaan lega yang teramat sangat. Bersyukur. Alhamdulillah, bapak sanggup melewati situasi ini dengan tegar. 

***



Namanya Juga Buruh

Sebenarnya sudah hampir 6 bulan memiliki rutinitas yang bisa dibilang ‘profesional’ di mana beraktivitas mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore selama 5 hari dalam seminggu, baik di dalam maupun di luar ruangan dengan satu tujuan yakni membantu perorangan atau korporat mengais keuntungan sebanyak-banyaknya dan sesering-seringnya. Tapi kalo lagi dituntut padatnya jadwal kegiatan di weekend ya tetep aja masuk bos. *apes* Meskipun tidak ada juga hasrat untuk pamer sana-sini perihal pekerjaan yang sedang saya lakukan karena masih banyak orang di luar sana kurang begitu paham dengan pekerjaan saya. Entah saya yang tidak pandai menjelaskan atau lawan bicara saya yang terlampau mengkotak-kotakan profesi sebatas itu-itu saja yang mereka ketahui. Namun sepertinya lebih kepada saya sendiri yang tidak mau orang lain tau apa yang sedang saya kerjakan terlebih pekerjaan saya. Buat saya ngga penting, orang lain tau apa ngga juga ngga akan menambah nominal rupiah di rekening saya. Jadi ya santai aja. Ngga ngefek juga. Hehehe….

Memutuskan untuk ‘nyemplung’ dalam rutinitas yang tengah saya kerjakan bukanlah keputusan yang sulit awalnya. Karena mengetahui stigma sosial di mana setelah wisuda ya seharusnya menghasilkan bukan malah nongkrong di depan televisi sambil menyalahkan negara. Ya, itu salah satu trigger saya mengambil kesempatan ini. Selain itu supaya tetap bisa foya-foya tanpa harus merecoki anggaran Ibu Rumah Tangga karena setiap awal bulan mampu mendapatkan upah selayaknya buruh. Foya-foya dengan mampu membeli keperluan pribadi dan rumah tangga saja sudah cukup bahagia. Ditambah bisa makan di tempat berpendingin ruangan sambil haha—hihi dengan teman senasib menjadi bonus di setiap bulannya.

Punya aktivitas kayak gini aja ngerasa udah bikin lelah dan lebih sering mengeluh. Padahal pengennya kaya tapi masa ngga mau kerja. Duh. Tapi beruntungnya punya partner kerja yang menyenangkan untuk berbagi kekesalan dan menertawai keadaan. Apalagi kalo udah mau menuju akhir bulan, bawaannya kesal. Dan kekesalan itu bisa diredam dengan ritual yang kerap kami lakukan yaitu jajan—mulai dari recehan kayak bakso tusuk, cilok, batagor sampai dengan level-level mengenyangkan kayak yammie panda, hokben, dan ichiban sushi yang tetep dijabanin meskipun akhir bulan. Agak seret ngeluarin anggarannya tapi selalu kami terjang asal buat mood jadi senang. Itu udah jadi santapan yang holy grail banget buat kami karena setiap abis makan selalu happy meskipun tidak berpengaruh juga terhadap beban pekerjaan kami. Tapi yaudalaya….

Ya samalah kayak pekerja-pekerja lainnya, kadang beban kerjaan suka bikin down dan ngerasa kalo ini bisa ngga sih dikerjain, kira-kira target ngga sih, atau bisa selesei ngga ya sebelum deadline. Ditambah lagi kalo lagi bosen dan diomelin atasan. Paket kombo sih kalo ini. Tapi selama punya jalan pintas buat nyikapinnya sih okelah. Masih bisa meratapi kekesalan dengan candaan itu bagi saya sehat. Meski ngga sehat-sehat amatlah. Tapi ngaruh dan ngebantu banget buat mood kerja tiap harinya. Jadi, buat teman-teman di luar sana yang memiliki keluhan serupa maka bersosialisasilah dan jangan terlalu overthingking. Dan yang jauh lebih beruntung karena udah mantul dengan apa yang dikerjakan sesuai keinginan jangan mudah sombong  untuk tetap bergaul dengan kami, apalagi bisa nge-chill bareng minum es teh plus ngebayarin sobat-sobatnya. Wah alangkah damainya negeri ini~
*CHEERS*



Dinding itu terlalu kokoh
Egoisme terpupuk dominan
Bahkan perlakuan itu pun terlampau keras

Satu jiwa yang kau kasihi seketika roboh
Terpecah membentuk pembenarannya sendiri
Satu kepala saja tak cukup mudah untuk ditentang
Dan kini beberapa pasang mata makin menghardik pilihan
yang bukan hak mereka untuk menentang

Ketika lelah dan menyerah adalah pilihan yang menggiurkan
Jiwa itu tak serta merta bermetamorfosa
menjadi seonggok daging hidup yang tak berasa

Liku realita itu menguatkannya berdiri
Menopang apapun yang tak lagi bersinergi
Jiwa yang kini termarjinalkan
Merangkaklah leluasa menembus kebebasan
Dari belenggu tradisi sarat logika.

anka.
Berungkali merasa jatuh
Berulangkali pula merasakan kecewa
Apa ini takdir manusia ?

Mudah memuja paras dan pekerti
Tapi sulit melabuhkan hati bahkan memiliki

Berulangkali rasa kagum ini terpatahkan
Berulangkali pula rindu yang terdesak
tapi tak mampu terucapkan

Sampai kapan manusia menunggu
Untuk mendapatkan cintanya secara wajar
Seperti manusia lainnya
yang menaruh hati lantas terbalaskan

Untukmu,
Manusia di ujung pengharapan
Meski selalu mengeluh dan berpeluh

Akan setia menunggu
kewajaran itu tiba
Dan berpihak kepadanya.

anka.

Sepuluh

Nggak terasa udah mau memasuki penghujung tahun 2017 aja nih. Kurang dari dua bulan lagi udah mendekati 24 taun aja. Bumi benar-benar berotasi dengan cepat...
Meski udah masuk November, saya mau sedikit berbagi kebahagiaan yang ada di bulan kesepuluh kemarin.




Oktober, 2017. Banyak hal baik terjadi di bulan itu. Bulan kesepuluh. Sepuluh yang juga dinilai sebagai angka yang sempurna dalam sebuah skala hitungan. Kurang lebih seperti itulah perasaannya. Sempurna. Menutup akhir taun 2017 dengan kesempatan mewujudkan salah satu cita-cita orangtua. Melihat putrinya mengenakan toga dan mendengar namanya dipanggil ke atas panggung untuk menyaksikan simbolisasi penyematan gelar prestisius yang diseleseikan kurun waktu 4 taun 9 bulan. Benar-benar nyaris mencapai 5 hehe...

Prosesi wisuda ini juga menandai fase di mana tanggungjawab orangtua secara finansial untuk mencukupi pendidikan bagi anaknya sudah selesei. 
Terimakasih atas dedikasi dan kerelaannya menyisihkan sebagian anggaran dasar rumah tangga selama 5 taun ini untuk membiayai 'kid jaman now' ini duduk di bangku kuliah. Alhamdulillah...
Akhirnya saya wisuda seperti teman-teman lainnya.

Senang bisa berkumpul dengan hadirnya orangtua yang lengkap. Bapak yang dengan gentar menerobos perjalanan dari hutan Kalimantan untuk sekedar menyaksikan anak terakhirnya mendapat gelar sarjana di belakang nama panjangnya. 
Selain itu, kehebohan teman-teman yang datang tanpa  menyurutkan niatnya meski hari di mana saya wisuda diguyur hujan yang sangat deras. Bergulir doa, ucapan, dan hadiah yang tiada henti. Bahagia sekali, ternyata saya punya banyak teman, meski cuma itu-itu saja hehe....
Tapi setidaknya mereka bisa membuat saya merasa dicintai dengan berada di sekeliling mereka. 

Hal baik lain yang sama halnya membuat saya bahagia adalah saya bisa menyeleseikan misi studi ini bersama dengan salah satu patner terbaik saya sejak pertama kali menjalani masa perkuliahan, Izzarine Nurdiaz Pramudita, S.Ikom dengan sangat mengagumkan. Menutup usia studi S1 ini dengan predikat cumlaude. Cukup banyak drama pertentangan untuk mencapai titik dan situasi ini. Tapi untungnya kami cukup tangguh melewatinya dan pada akhirnya berhasil melemparkan toga. 
Selamat!❤


Juni Andalan Gue!


WOHOOO!
Akhirnya, sukses juga ngelaksanain pendadaran dan sangat bahagia dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup kerenlah buat dibanggain di depan teman-teman dan sanak saudara :))
Tepatnya tanggal 14 Juni lalu, saya berjuang mempertanggungjawabkan pemikiran yang telah menguras banyak tenaga, uang, dan waktu selama setahun ini. Mungkin ini pula salah satu berkah yang dikasih Tuhan buat saya di sela-sela bulan Ramadhan untuk mempercepat kelulusan saya dan membantu orangtua saya supaya dapat bernafas dengan lega. Terutama siklus pernafasan dompetnya.

Berkah Ramadhan....
Alhamdulillah sangat bahagia bisa menuntaskan wajib belajar 19 taun yang telah dicanangkan oleh orangtua saya. Puas menghabiskan 1.5 jam di dalam ruang sidang dengan kehadiran beberapa teman yang setia untuk menemani dan siap menghujat di kala saya melakukan kesalahan hehe...

Kebayang deg-degannya gimana, yang ada di kepala cuma wajahnya mama doang. Karena gimanapun mama adalah salah satu orang yang selalu support dan menekan bagaimana pun kondisinya. Doa restu dan pelukan mama adalah hal termagis yang membuat saya bisa tenang dan melalui sidang pendadaran dengan lancar dan percaya diri.
Dan, pada akhirnya title bergengsi ini berhasil saya tambahkan di belakang nama saya. Meski belum officially karena revisi dan wisuda masih tak kunjung terlaksana tapi setidaknya bereuforia tidaklah haram hukumnya.

Terlebih bahagia lagi karena salah satu sahabat seperjuangan saya sejak semester satu perkuliahan, di hari dan jam yang sama dapat lulus juga dengan nilai yang memuaskan. Selamat Ben! Yeah, tuntas juga kita akhirnya. Lumayanlah lima tahun dengan pengalaman yang cukup berliku dan signifikan selama masa perkuliahan. Suer! nggak bakalan terlupakan setiap momennya. Ngerasa puas bisa belajar dan berkembang bersama dengan temen-temen jurnalistik lainnya hingga bisa sampe di titik ini dan dinyatakan lulus. Bukannya mau berpuas diri karena udah lulus terus tantangan berenti di situ aja. Saya paham bahwa titik ini adalah permulaan untuk menatap tantangan hidup yang sebenarnya. Tapi rasa ini adalah bentuk apresiasi bagi diri saya terhadap apa yang telah saya lalui dan kerjakan selama 10 semester ini. Selepas dari tanggung jawab revisi dan wisuda terseleseikan, semoga cita-cita saya untuk mendapatkan pekerjaan pun bisa segera terwujudkan. Aaamiiin!


Selamat! Jakarta Punya Pemimpin Baru

Sejak pagi tadi, saya sudah repot mantengin linimasa sosial media untuk memantau jalannya proses pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Bahkan sampai saat ini. Jogja diguyur hujan. Jakarta pun demikian. Rasanya, semesta pun ikut bersedih dan mengamini ketidakpuasan para simpatisan Bapak Ahok-Djarot yang dikenal dengan sebutan TemanAhok untuk tunduk pada pemilu putaran kedua kali ini.

Sebenarnya, saya tidak terlalu ambil pusing dengan hasil pilkada 2017 yang dimenangkan oleh Bapak Anies-Sandi dengan perolehan presentase yang cukup signifikan dibanding petahana, Bapak Ahok-Djarot. Tapi, namanya saja netizen yang budiman. Jadi, rasanya belum afdol kalo belum ikut mengomentari apa yang sedang terjadi di Ibukota Indonesia. Hehe..

Kemenangan Bapak Anies-Sandi bagi saya bukan hal yang mengejutkan. Karena, apa yang telah dilakukan mereka dengan tim pemenangan beserta simpatisan sudah cukup menyita perhatian saya sejak awal mereka mengumumkan sebagai pasangan penantang. Sentimen negatif dan isu SARA ibarat menjadi modal jualan politik yang tak ada habisnya diperdebatkan selama beberapa bulan masa kampanye. Dan, tentu saja hal tersebut begitu terasa dengan hasil yang di dapat saat ini. Belum lagi, siapa saja pesohor politikus yang terlibat  di balik kekuatan tim mereka.

Mungkin ini adalah jawaban bagi Bapak Anies-Sandi untuk bisa membuktikan dan merealisasikan bagaimana wacana serta program-program unggulannya membenahi Jakarta dengan menggunakan pendekatan yang lebih 'humanis' (katanya) demi kesejahteraan warga Jakarta. Tapi kalo boleh beropini sih, Jakarta itu luas. Jakarta itu keras. Jakarta itu rumit, Di tambah jika pemimpinnya hanya sibuk berdialektika tanpa ada pencapaian untuk membuat perubahan. Mungkin mulai hari ini, Bapak Anies-Sandi sudah harus menyingsingkan lengan pakaian untuk lebih bekerja keras melayani kebutuhan masyarakat Jakarta. Dan, tentunya bersinergi dengan pencapaian program kerja, baik yang telah, akan, dan belum dituntaskan oleh Bapak Ahok-Djarot.

Kalo boleh jujur, belum ada keoptimisan dari saya untuk melihat Jakarta setelah Bapak Ahok-Djarot meninggalkan kursi balaikota. Jangankan saya yang di daerah, yang nggak ada hubungannya. Apalagi masyarakat Jakarta yang meletakkan amanah dan kepercayaannya pada Bapak Ahok-Djarot sebagai pelayan publik selama lima tahun. Pasti sedih. Pasti bakalan susah move on juga. Dan, saya pun bisa merasakan itu. Mungkin ini yang dirasakan warga Amerika ketika Hillary Clinton gagal terpilih menjadi presiden mereka. Tapi apapun itu, demokrasi tetap harus dijunjung tinggi. Bersikap sportif dengan hasil yang diperoleh. Dan, alangkah bijaknya jika mulai menanggalkan atribut masing-masing pendukung dan bersama membenahi dan merawat ibukota ke arah yang lebih baik lagi.

Untuk Bapak Ahok-Djarot, saya adalah salah satu penggemar bapak dari Jogja. Terlepas bagaimana karakter Bapak Ahok yang banyak mendapat protes maupun kecaman keras. Saya tetap mendukung bapak untuk menuntaskan kewajiban sebagai gubernur hingga masa jabatan berakhir. Saya yakin bapak sudah legowo dan berusaha berbuat yang lebih baik lagi hingga Oktober 2017 mendatang. Jangan bersedih Pak. Tetap semangat. Tenaga serta pemikiran Bapak masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia meski tak lagi memimpin Ibukota. Selamat bekerja Pak, tuntaskan segalanya, dan tersenyumlah lebar untuk masyarakat Jakarta.



It's Your G-Day, My Fellows!

Masih belum bisa lepas dari perayaan wisuda temen-temen sejawat pekan lalu. Meski bukan hari besar saya, tapi saya cukup senang dan bahagia bisa terlibat dan berada di antara mereka. Merayakan hari jadi penuntasan wajib belajar yang telah ditetapkan oleh orangtua masing-masing. Yeah! Now, you're officially bachelor and so damn cool friends!








Siap Nggak Siap Sih...

Jadi seperti ini rasanya. Memiliki rasa takut yang masih abu-abu.
Terdengar aneh, memang, karena ini terasa sekali. 
Bahkan, hingga nanti saat saya mulai kembali membaca tulisan ini lagi.

Ketakutan saya semakin menjadi-jadi.
Jika saja ada cara untuk menghilangkan rasa takut ini dengan berteriak. 
Maka itu adalah pilihan yang akan saya ambil. Saya akan berteriak bahwa saya takut.

Saya takut.
Terlebih, ketika kewajiban saya sebagai seorang mahasiswa akan menyentuh babak akhir.
Itu juga menandakan bahwa saya harus siap untuk menjalani realita hidup sebagai individu yang mulai menanggung beban dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. 
Bukan lagi orangtua.
Saya takut.
Ketika bangun tidur dan membuka mata mendapati diri saya bukan seorang mahasiswa lagi. Melainkan salah satu dari ribuan 'sarjana nganggur' yang memperebutkan status pekerjaan.
Memang saya tipikal realistis tapi tak jarang saya juga takut pada realita. 
Lucu memang. Tapi tak apalah. Toh, manusia juga memiliki haknya untuk menertawakan dirinya sendiri.

Ketakutan akan title fresh graduate menjadi semakin terasa jika tidak diimbangi dengan skill bersaing yang mumpuni untuk berebut kursi dalam sebuah organisasi korporat. Kecuali, saya memiliki modal dan cukup inovasi untuk melakukan sesuatu dan memutuskan membuka lapangan pekerjaan sendiri. Bahkan untuk teman-teman saya.  
Beradu mental, ide, skill, pengalaman, dan keberuntungan menjadi titik kematangan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang (bagi mereka) dikatakan layak dan mumpuni.

Mungkin, ini yang menjadi alibi saya selama menjalani dua semester ini untuk menunda menuntaskan skripsi. 
Ketakutan ini membawa saya pada kemalasan. Ketakutan yang wajar tapi tak seharusnya dilakukan.
Saya terlampau sibuk meraba apa yang belum tentu terjadi. 
Saya terlalu fasih melontarkan pengandaian negatif pada diri saya sendiri.
Saya terlena pada mimpi tanpa mau tau bagaimana mewujudkannya.
Saya hanya tidak mau berakhir sebagai pecundang dengan gelar prestisius tanpa bekerja, berkarya, dan menghasilkan. 
Saya harus berusaha. 

Berdasarkan pengalaman, menguatkan orang untuk tidak takut itu mudah. Tapi paradoks, ketika mengetahui diri saya pun (masih) penakut.
Saya menyadari itu dan tidak malu mengungkapkannya. Karena mungkin dengan cara seperti ini, saya bisa lebih tau siapa diri saya dan berlatih untuk menenangkan ketakutan saya dengan cara berjuang. Berjuang hingga batas akhir kemampuan saya. Dan, saya sepakat dengan itu.


Segelas Air Dingin yang Melegakan

Tawamu penawar ampuh sembuhkan luka
Kelakarmu buatku melepas gelak tanpa tata
Erat pelukmu senjata menyeka lara
kapan dan di manapun aku berada
meski terkadang kau serumit aritmatika
tapi engkau anugerah yang senantiasa sejukkan jiwa

anka.

(Lagi-lagi) Jadi Penggembira


Dalam seminggu ini, berturut-turut kembali memeriahkan sidang pendadaran teman satu angkatan. Tidak terlalu spesial karena lagi-lagi saya hanya menjadi penggembira di antara teman-teman yang dengan susah payah telah berhasil menyabet gelar prestisius di belakang nama mereka. 
Senang sekaligus sedih. Beberapa teman yang juga menjadi sahabat satu-persatu mengambil pilihan untuk lebih dulu menapaki fase lanjutan dari sebuah gelar sarjana. Fase yang lebih serius tentunya yaitu mencari kerja atau malah menjadi beban keluarga. Pilihan yang kurang bersahabat memang,tapi mutlak untuk dijalani kalo tidak mau berakhir dengan stigma 'pengangguran' oleh society. Ya, seringnya mulut society lebih mengiris hati dibanding perkataan Ibu pada saat membangunkan pagi untuk kuliah atau memeberikan pertanyaan sakral "kapan kuliahmu rampung?" 
Untuk itulah rekan-rekanku, selamat menjalani hari-hari tanpa status mahasiswa dan lekaslah berbenah menjadi harapan bagi keluarga. Cheers!


Fauzan Thoriq Perdana Kusuma, S.Ikom
Cindy Chintya Eprilianti, S.Ikom

by. teman penggembira pendadaran 
Sepi itu indah ?
Terkadang...
Tapi entah mengapa
Aku lebih suka keramaian

Bukan tentang hingar bingar
atau hiruk pikuk manusia
Ramai pun bisa tercipta
Meski hanya dengan aku dan kamu
yang lantas menjadi 'kita'

Degup jantung ini 
tak terdengar sempurna
Terlebih ketika saling bertukar
arah pandangan mata

Di antara diam dan tatapan muka
Aku pun berdoa
Seraya memejamkan mata
Memuja kekaguman yang hinggap
menghiasi pemandangan indera

Apa mungkin ini pertanda cinta ?
Entahlah...
Tapi satu hal yang kuyakini
Jatuh cinta itu anugerah
Meski tak selalu mudah. 

anka. 

It's love when someone can touch 
you without using their hands.
- Faraaz Kazi -

Pandangan pertama tak membahas dusta
Ia bekerja spontan
Merefleksikan penglihatan dengan apa yang dirasakan
Hinggap pada siapa pun tanpa perlu persyaratan 
Hanya saja 
Tak semua pasang mata itu mau mengiakan

Ada yang berkata 
Pandangan pertama bukanlah segalanya
Sedangkan bagi saya
Itu awal dari sebuah petualangan

Pandangan pertama tak semata menyoal paras
Sebab mata tak hanya melihat
Ia sanggup pula menilai 
Bagaimana kharisma yang menawan
Bukan hanya sekedar rupawan

Pandangan pertama laksana jatuh cinta
Datang tiba-tiba
Tanpa rencana
Menyeruak kapan saja
Melalui medium yang tak terduga. 

anka. 

Rare Moment.


Berlatar belakang sebuah gerai aksesoris yang cukup fenomenal di kalangan anak SMP semasanya. Iseng-iseng sedang mencoba hiasan kepala yang kini sedang nge-trend. Kemudian secara tidak sengaja tapi agaknya cenderung pada tindakan sengaja diabadikan dengan klasik oleh fotografer kawakan saya, yaa  Ine Pramudita. Seorang perempuan yang tak pernah absen membawa sebuah kamera pocket Canon G16 pada selipan tas bawaannya itu. Dan seperti biasa, hasil jepretannya pun tak pernah mengecewakan. Meski sang objek tampaknya kurang begitu memuaskan untuk dilihat. Akan tetapi, cukuplah untuk bahan posting-an di akun instagram hehe...

fyi. Di stroberi padahal nggak boleh mengambil gambar apalagi cuma buat gaya-gayaan di foto tanpa membeli. Tapi dengan piawai kami berhasil mengabadikannya. 

Pupus.

lama rasanya tak mengingatmu
entahlah, 
apa mungkin aku mulai bosan ?
bahkan sajak rindu yang selalu ku buat untukmu pun
kini hambar rasanya

sesekali ku coba tengok kembali
untuk mengingat dirimu yang pernah singgah dalam hati
tapi sayangnya,
aku tak menemukan perasaan yang sama
ketika awal ku mulai jatuh hati

aku jenuh
karena hanya menunggu
tapi tak pernah mau mengadu

aku lelah
lantaran hanya diam
dan tak pernah mau berjuang

barangkali memang sudah saatnya
mengakhiri semua angan
yang tak akan pernah mampu 
untuk diperjuangkan.

anka.

NG-ARTSY


Melakukan aktivitas menyenangkan di akhir pekan bersama orang-orang yang menggemaskan. Mencoba bereksperimen dengan menggunakan media kain yang dicelap-celup dengan pewarna atau dinamakan dengan teknik shibori. Cukup nge-trend beberapa tahun belakangan ini, kain shibori yang begitu fantastis harganya untuk kalangan pangsa pasar mahasiswa kelas menengah biasa aja yang cenderung lebih suka nyiyirin harganya karena iri nggak bisa beli.

Shibori adalah salah satu teknik pewarnaan celup ikat asli Jepang dengan menggunakan bahan alami daun indigo. Dan uniknya, kain shibori ini tidak dilukis ataupun digambar, melainkan dengan pembuatan pola yang menurut saya sangat ngide sekali dan unpredictable. Gimana nggak, sang creator bebas mengeksplorasi pola dengan cara melipat kain, kemudian mengikatnya dengan tali atau karet, atau bisa juga dengan digulung memakai bambu kemudian diikat menjadi beberapa ruas guna mendapatkan pattern yang sesuai dengan keinginannya. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan, semakin kreatif atau out of the box polanya, maka akan semakin mengejutkan pula hasilnya. Itu yang bikin menarik dan memuaskan. Jadi nggak heran kalo kain shibori itu sedikit agak bunyi harganya. Apalagi kalo udah jadi baju. Aduh...belum kuat deh belinya.

Nah, sabtu kemarin saya dan dua teman saya, Ine dan Diah mencoba melakukan workshop kecil-kecilan untuk membuat kain shibori ini. Workshop kali ini disponsori oleh Ine yang dengan sukarela mempersilahkan kami berdua untuk sedikit mengacak-acak kamar dan loteng rumahnya.

Ternyata cukup gampang-gampang susah pengaplikasiannya. Sebelumnya kita juga berbelanja bahan-bahan apa saja yang akan dibutuhkan, seperti pewarna, larutan Hcl, Nitrit (yang digunakan untuk proses pencelupan kain), dan beragam jenis kain mulai dari kanvas, blaco, hingga katun saten. Tak lupa juga browsing di Pinterest untuk mencari beberapa pola kain shibori supaya memudahkan kita dalam proses pengerjaannya. Dalam pengerjaannya memang dibutuhkan 'sok ide' yang sangat tinggi supaya mendapatkan hasil yang yaa bisa dibilang agak lumayanlah untuk kelas pemula seperti kami bertiga. Haha...
Dan karena namanya manusia yang sarat akan kepuasan, maka kami bertiga memutuskan untuk mengadakan kembali workshop shibori jilid kedua yang bakal dilaksanain minggu depan. Jadi mari kita tunggu hasilnya ;))

Terimakasih juga Ine yang telah mendokumentasikan kegiatan celap-celup ini dengan ciamik. Jadi makin kece dan keliatan lebih ARTSY lagi deh kita!